Rabu, 22 Mei 2013

Anakku, Jangan Coret Seragam Sekolahmu!

Menanti Pengumuman UN, 24 Mei 2013

Oleh Mustanir Yahya *)

PERHELATAN akbar bidang pendidikan di negeri ini, Ujian Nasional (UN) sudah berakhir. Beberapa hari kedepan kita akan mendapatkan hasilnya. Tentu kita menyambut baik komitmen Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhammad Nuh untuk tetap menyelesaikan evaluasi dan pengumuman hasil UN 2013 sesuai dengan jadwal sebagaimana direncanakan sebelumnya, yaitu;

Untuk SMA/SMK sederajat akan diumumkan pada 24 Mei 2013, SMP/MTS sederajat akan dilakukan bersamaan dengan Kejar Paket B yakni pada 1 Juni 2013, sementara untuk tingkat SD/MI/SDLB akan diumumkan pada 8 Juni 2013. Sekalipun terpaan badai cukup merepotkan beliau terkait kendala pelaksanaan UN tingkat SMA/MA dan Paket C di 11 provinsi mengalami pengunduran dari jadwal yang direncanakan semula.

Menghadapi pengumuman hasil UN tersebut, terbayang pada semua kita adalah perilaku anak-anak kita dengan aksi coret-mencoret baju dan konvoi di jalanan umum, yang di negara lain asing terlihat. Untuk 2013 ini, aksi coret-mencoret ini sudah kita saksikan yang dipertontonkan anak-anak kita dari SMA/SMK di Kota Tangerang, Banten, setelah mereka selesai mengikuti UN beberapa hari yang lalu.


Ekspresi kegembiraan

Maka prediksi kita sebagaimana juga sudah lazim terjadi pada tahun-tahun yang lalu, para peserta UN di seluruh Indonesia saat diumumkan hasil UN maka bagi mereka yang dinyatakan lulus langsung melakukan coret-mencoret baju seragam sekolahnya. Lalu, dilanjutkan dengan konvoi kendaraan bermotor di jalan umum, yang bukan hanya merugikan diri mereka tapi juga membahayakan orang lain. Perilaku seperti ini sering kita jumpai terjadi pada siswa tingkat SMA dan SMP, namun tidak ada pada siswa SD/sederajat.


Kegiatan coret-mencoret bagi sebagian siswa dianggap merupakan budaya dan luapan ekspresi kegembiraan. Kebanyakan dari para siswa menganggap aksi coret-mencoret saat kelulusan sebagai hal yang lumrah, karena jiwa mereka merasa bebas dan tak ada lagi beban. Namun, kalau dipikir lebih dalam, aksi coret-mencoret seragam sekolah merupakan tindakan yang tidak bermanfaat karena menghamburkan-hamburkan harta.

Hitung-hitungan sederhana; bila harga satu setel pakaian seragam bekas sekitar lima ribu rupiah, sementara jumlah peserta UN tahun pelajaran 2012/2013 untuk tingkat SMP/sederajat dan SMA/sederajat di Provinsi Aceh tercatat sebanyak 150.022 siswa. Dengan asumsi 80% dari siswa peserta UN tahun ini adalah anak-anak yang patuh, santun, dan baik. Sementara hanya 20% siswa lainnya yang termasuk katagori sulit dikontrol atau hanya sejumlah 30.000 siswa saja yang ikut melakukan aksi coret-mencoret seragam, maka akan terbuang uang senilai Rp 1,5 miliar lebih. Sebuah kemubaziran yang luar biasa.

Tentu ada di antara kita pura-pura tidak tahu dan bertanya mengapa anak-anak kita tersebut melakukan coret-mencoret baju seragam sekolahnya? Sebenarnya kebiasaan corat-coret biasa dilakukan oleh anak usia Taman Kanak-kanak (TK) saat mereka baru saja bisa menggambar dan menulis, mengekspresikan kemampuan mereka.


Kemudian, seiring dengan pemahaman mereka bahwa hal tersebut tidak baik, maka pada usia Sekolah Dasar (SD), kebiasaan tidak baik ini mereka tinggalkan. Namun anehnya saat usia mereka menginjak dewasa, tatkala umur sudah mampu membedakan yang baik dengan yang buruk, pada akhir jenjang SMP dan SMA tabiat kurang terpuji coret-mencoret kambuh kembali. Kondisi ini sangat memprihatinkan kita para orang tua siswa yang masih memiliki perhatian kepada mereka.

Kita yang menaruh harapan kepada anak-anak kita dengan dua alasan: Pertama, mencoret-coret seragam merupakan perilaku mubazir, sementara kemubaziran adalah sifatnya setan yang merupakan musuh kita paling besar. Masa kita bertabiat sama dengan musuh bebuyutan kita? Dan; Kedua, mencoret-coret baju seragam sekolah saat lulus merupakan indikasi rapuhnya mentalitas dan belum teguhnya keimanan. Seseorang yang memiliki keimanan yang teguh, maka akan kita jumpai dia tidak terlalu sedih saat gagal, dan sebaliknya tidak terlalu gembira tatkala berhasil sukses. Dia meyakini di balik gagal dan suksesnya dia ada orang tua yang selalu mendoakan dan ada Allah yang Maha Berkehendak. Saat lulus dia bersyukur, sementara bila gagal dia ber-positive thingking bahwa Allah swt pasti punya skenario lain yang terbaik untuk dia.

Solusi terbaik


Menyadari coret-mencoret sudah terlanjur menjadi budaya di kalangan siswa, maka perlu kerja sama semua pihak untuk mendapatkan solusi terbaik. Di antara hal yang mungkin kita kontribusikan adalah: Pertama, imbauan penyadaran kepada siswa bahwa coret-mencoret dan juga konvoi di jalan raya saat pengumuman lulus adalah perilaku kurang terpuji. Imbauan ini harus dilakukan oleh semua pihak termasuk para dai melalui religius approach;

Kedua, peran orang tua mulai dari upaya memberi pengertian kepada putra-putrinya secara persuasif, sampai membatasi kalau dianggap perlu. Bahkan, kalau perlu biar orang tua saja yang lihat pengumuman, dan; Ketiga, pengondisian oleh pemerintah daerah dengan acara kolosal seperti dimulai dengan ceramah di suatu tempat terpusat.

Selain itu, saat pengumuman hasil UN dilakukan, siswa hadir diantar oleh orang tua dengan tidak membawa kendaraan sendiri serta menggunakan baju batik. Ada daerah yang Pemda setempat mewajibkan siswa menggunakan baju adat saat melihat pengumuman. Sehingga membatasi keleluasaan para siswa untuk mencoret coret seragam sekolah dan konvoi.

Semua kita harus ikut prihatin dan berbuat sesuatu agar ada perubahan suasana pengumuman UN 2013 ini. Untuk pihak-pihak yang telah mengeluarkan dana cukup banyak untuk memperkenalkan pendidikan berkarakter. Inilah salah satu karakter tidak baik yaitu bersikap boros, yang tentunya perlu kita jauhi dan kita berantas.

Bagi kita yang sering ceramah, seminar dan diskusi yang cukup banyak menghabiskan dana Anggaran Pembangunan dan Belanja Daerah (APBD) dan waktu kita terhadap bahasan pendidikan Islami, ini merupakan perangai yang sangat tidak Islami yang harusnya tidak kita biarkan terus berlangsung. Anakku, jangan coret seragam sekolahmu!


* Dr. Mustanir Yahya, M.Sc, Dosen Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Banda Aceh, dan Ketua Majelis Pendidikan Daerah (MPD) Aceh Besar. Email: mustanir_yahya@yahoo.com

NB : Tulisan ini telah dimuat di harian Serambi Indonesia edisi Selasa, 21 Mei 2013 dapat diakses di SerambiNews.com

Terima kasih

0 komentar:

Posting Komentar

Sampaikan Pertanyaan, Komentar, dll di bawah ini..

MPD Kab.Aceh Besar powered by 123ContactForm.com | Report abuse